Loading...

Di tengah maraknya pasar kendaraan listrik yang menjadi wujud komitmen dalam penggunaan energi ramah lingkungan, Kementerian Perindustrian juga tetap berkomitmen untuk meningkatkan potensi para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor otomotif konvensional sehingga dapat berdaya saing sembari bersiap untuk turut serta merambah potensi pasar kendaraan listrik khususnya kendaraan beroda dua.

Di tengah maraknya pasar kendaraan listrik yang menjadi wujud komitmen dalam penggunaan energi ramah lingkungan,  Kementerian Perindustrian juga tetap berkomitmen untuk meningkatkan potensi para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor otomotif konvensional sehingga dapat berdaya saing sembari bersiap untuk turut serta merambah potensi pasar kendaraan listrik khususnya kendaraan beroda dua.  Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita mengatakan bahwa industri otomotif nasional masih terus bertumbuh dan dapat menjadi bisnis yang menjanjikan. “Berdasarkan laporan dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), untuk penjualan sepeda motor domestik dapat mencapai 6.236.992 unit di sepanjang tahun 2023. Angka tersebut naik 19,44% dibanding tahun 2022, dimana penjualan sepeda motor domestik sebanyak 5.221.470 unit,” ucap Reni dalam Acara Demoday Knalpot Aftermarket di Gedung Smesco Jakarta, Senin (25/3).

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) untuk Transportasi Jalan. Hal ini menjadi peluang dan tantangan bagi IKM Alat Angkut termasuk IKM Knalpot untuk dapat melakukan diversifikasi produk ke arah motor listrik. Reni mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pembinaan pada IKM alat angkut agar dapat masuk ke dalam ekosistem KBLBB. “Khususnya motor listrik, baik dalam pembuatan parts /komponen motor listrik, perakitan, maupun jasa service dan reparasi motor listrik agar produk dan jasa yang dihasilkan oleh IKM alat angkut mampu memenuhi standar kualitas, harga yang ekonomis dan pengiriman yang tepat waktu,” ungkapnya.

Di samping itu Reni menjelaskan bahwa Ditjen IKMA terus tetap membina industri kendaraan bermotor dengan bahan bakar fosil untuk tetap berdaya saing. “Walaupun kami telah memulai pengembangan motor listrik, namun kami tidak akan meninggalkan industri kendaraan bermotor konvensional dengan bahan bakar fosil. Salah satunya dengan melakukan pembinaan kepada IKM knalpot after market  atau knalpot yang  diproduksi bukan oleh buatan pabrikan kendaraan asli. Hingga saat ini para IKM tersebut masih menghadapi tantangan untuk dapat masuk dalam ekosistem KBLBB utamanya di sisi kompetensi SDM dan kualitas produknya,”    ujarnya.

Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut Ditjen IKMA, Dini Hanggandari, turut menyampaikan bahwa timnya telah melakukan berbagai program pembinaan yang ditujukan untuk peningkatan daya saing IKM. “Kami telah melakukan berbagai program pembinaan peningkatan daya saing IKM, mulai dari penguatan akses bahan baku, pengembangan produk, peningkatan teknologi mesin/peralatan sampai dengan promosi dan pemasaran,” ucapnya.

Adapun kegiatan yang sudah dijalankan, antara lain Bimbingan Teknis Perbengkelan Sepeda Listrik dan Motor Listrik bagi IKM di NTB dan Bali, Pendampingan Pembuatan Prototipe Sepeda Listrik di NTB, Bimbingan Teknis Pengelasan dalam Rangka Pembuatan Rangka Motor Listrik di Purbalingga, Bimbingan Teknis Penumbuhan IKM Bengkel Konversi di Solo dan Bandung untuk melakukan konversi dari motor berbahan bakar fosil ke motor listrik, Pameran Kendaraan Listrik Roda Dua di Bali dan Jakarta, Pendampingan 5R bagi IKM Knalpot di Purbalingga, serta Kemitraan antara IKM Komponen Otomotif dengan Tier-1 APM dan Industri Besar.

“Diharapkan kegiatan tersebut dapat menghantarkan semangat bagi IKM sektor otomotif untuk terus bersinergi dan berkolaborasi dalam pengembangan produk yang berkualitas, memenuhi standar mutu dan ramah lingkungan”, tutupnya .

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.