Loading...

Kementerian Perindustrian memiliki serangkaian program penguatan industri alas kaki di tengah bayang-bayang resesi global. Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka telah menyiapkan mitigasi agar industri alas kaki nasional lebih tahan banting, dengan memperkuat rantai pasok dan menggarap potensi industri alas kaki di pasar domestik.

“Meskipun tahun 2023 dihantui kembali resesi ekonomi dunia, namun pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian sangat yakin industri alas kaki nasional mampu bertahan. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan fiskal maupun non fiskal sebagai upaya mitigasi resesi,“ kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Reni Yanita di Jakarta, Rabu (18/1).

Setelah dihadapkan dengan tekanan akibat pandemi Covid-19, IKM alas kaki kembali dihadapkan dengan potensi ancaman resesi 2023. Kendati demikian, data Badan Pusat Statistik hingga triwulan III 2023, justru menunjukkan adanya potensi besar industri alas kaki dilihat dari total penyerapan tenaga kerja yang mencapai 159.400 tenaga, dari total industri kecil dan mikro di seluruh wilayah IKM alas kaki di Indonesia. Sementara itu, potensi nilai penjualan domestiknya mencapai Rp 5,07 triliun.

Sementara itu, kinerja ekspor produk alas kaki nasional pada kuartal III 2022 juga menunjukkan prospek cerah, yaitu sebesar USD 5,949 miliar atau naik dibanding kuartal III tahun 2021 sebesar USD 4,388 miliar.  Selama periode Januari-September 2022, volume ekspor industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki mencapai 337,48 ribu ton, naik 34,28% dibandingkan Januari-September 2021 (yoy), dengan neraca perdagangan industri alas kaki surplus sebesar USD 5,191 miliar.

Demi memperkuat kinerja di sektor tersebut, Ditjen IKMA melalui Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia terus melakukan kolaborasi dengan mitra bisnis IKM alas kaki. Selain program kemitraan, BPIPI juga mendorong program pengembangan produk yang di dalamnya terdapat pengembangan teknologi serta program akses pasar promosi pemasaran bagi IKM alas kaki berorientasi ekspor. Tahun lalu, BPIPI bermitra dengan APLF ASEAN melalui keikutsertaan dalam acara pameran industri samak kulit yang mendatangkan para pelaku industri alas kaki dari hulu ke hilir, sebagai upaya memperkuat rantai pasok.

BPIPI juga konsisten mendorong para IKM alas kaki untuk lebih peduli terhadap perlindungan Kekayaan Intelektual, memperhatikan nilai kemasan produk, dan memperoleh Sertifikat Produk Penggunaan Tanda (SPPT) SNI untuk produk sepatu pengaman dari kulit. 

Sepanjang 2022, BPIPI mengkampanyekan “sadar uji” bagi IKM alas kaki untuk mengutamakan kualitas produk bagi kenyamanan konsumen. BPIPI terus memberikan konsultasi terkait mutu dan pengujian kepada IKM agar produk semakin unggul. 

“Saat ini kualitas produk menjadi hal yang penting untuk pemilihan produk oleh konsumen. Produk yang berkualitas tinggi dapat dengan mudah memenangkan persaingan. Dengan kampanye sadar uji diharapkan seluruh IKM dapat menerapkan mutu produk alas kaki sesuai dengan standar,” ungkap Reni.

Tak hanya itu, terkait kebijakan nonfiskal lainnnya, Kemenperin memberikan stimulus bagi IKM beroerientasi ekspor dengan kemudahan impor bahan-bahan tertentu untuk produk tujuan ekspor. Fasilitasi ini termasuk dengan mempermudah pengurusan KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor) dan Neraca Komoditas bagi IKM. 

“Prioritas integrasi perijinan mulai dari pengurusan NIB, termasuk Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) yang dipermudah dan dipercepat khususnya perijinan yang sifatnya lintas sektoral melalui pendampingan industri,” ucap Reni.

Sesuai arahan Menperin, BPIPI juga progresif memfasilitasi pelaku IKM alas kaki berorientasi ekspor untuk membuka dan menggarap peluang pasar ekspor baru ke negara-negara Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika.

Menurut Reni, strategi proaktif dan kolaborasi antara Kementerian Perindustrian dengan para pemangku kepentingan lain sangat diperlukan untuk mendorong IKM agar lebih inovatif dan kompetitif menghadapi resesi. 

“Tumbuhnya industri pendukung alas kaki, penguasaan brand lokal di pasar domestik dan bertambahnya IKM yang naik kelas akan menguatkan interaksi di dalam ekosistem. Dengan ekosistem industri alas kaki yang kuat, industri alas kaki nasional akan lebih mandiri dan kuat,” tutur Reni.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.