English (United States) Bahasa Indonesia (Indonesia)
Thursday, September 18, 2014
   
PUBLIKASI Kumpulan Artikel
Artikel

Current Articles | Categories | Search

Wednesday, April 23, 2008
Pasar Minyak Atsiri Dunia Kurang Pasokan
By Vianton @ 2:26 PM :: 5762 Views
 

Konferensi IFEAT (International Federation For Essential Oil and Aroma Trade) kali ini yang diselenggarakan di budapest, Hongaria (23-27 September 2007) mengambil tema "Developmentsin The Global Aroma Chemicals and Essential Oils lndustrles" Topik utama yang dibahas adalah perkembangan industri aroma chemicals di China dan India sebagai produsen utama dunia untuk kelompok produk tersebut. Konferensi kali ini juga membahas regulasi baru tentang registrasi bahan kimia alami yang mulai diterapkan, Reach (Registration, Evaluation and Authorisation of Chemicals) di Uni Eropa.Indonesia mendapat kesempatan presentasi untuk memaparkan perkembangan industri minyak atsirinya.


Pertimbangannya, Indonesia bersama Kuba terpilih mewakili sebagai negara penghasil minyak atsiri yang cukup potensial. Wakil dari Indonesia, Wien Gunawan selaku Ketua Umum Dewan Atsiri Indonesia mengusung tema "Developments in Indonesia's essential oil industry includingthe establishment of the Indonesian Essential Oil Council". Bahasannya meliputi tinjauan kondisi industri minyak nilam, pala dan cengkeh saat ini, tantangan dan peluang yang dihadapi, dukungan pemerintah dan strategi pengembangannya. Paparan tersebut ternyata mendapat apresiasi dan tanggapan cukup baik dari peserta konferensi. Hal itu terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang diajukan. 


Diskusi dilanjutkan dengan melobby pelaku bisnis minyak atsiri internasional.
Ada tiga hal pokok yang disampaikan, Pertama mengkomunikasikan kebijakan terbaru pemerintah Indonesia tentang pengembangan industri minyak atsiri termasuk peluang investasinya. Kedua eksistensi Dewan Atsiri Indonesia beserta peran dan misi yang dijalankan untuk mendorong kemajuan industri minyak atsiri di Indonesia, khususnya yang terkait dengan interaksi dengan pihak luar negeri. Ketiga, isu-isu aktual tentang produksi minyak atsiri di Indonesia khususnya minyak nilam yang saat ini mengalami shortage dan upaya mengatasinya.


Produksi fluktuatif,

Dari hasil interaksi yang dilakukan delegasi Indonesia dengan berbagai pihak selama Konferensi (FEAT, disimpulkan secara umum posisi Indonesia sebagai produsen minyakatsiri berada pada posisi ketiga setelah China dan India. Dan minyak nilam Indonesia ini ternyata menjadi andalan industri bahan pewangi dunia. Sayangnya produksi dan pasokan minyak nilam yang ada masih jauh dari established. Hal ini terlihat dengan fluktuasinya produksi dan harga yang sangat tinggi. Situasi ini diakui sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan bagi semua pihak.Permintaan peserta konferensi, Indonesia yang dianggap sebagai negara produsen minyak nilam diharapkan dapat segera berperan dalam mengendalikan fluktuasi tersebut. Para importir menyatakan kesediaannya bekerjasama dengan pihak Indonesia dalam mengupayakan hal tersebut. Pelaku industri minyak atsiri dan bahan aroma dunia, melihat sistem produksi minyak nilam di Indonesia masih belum terstruktur dan terencana dengan baik.


Bahkan bersamaan dengan berlangsungnya konferensi IFEAT, situasi pasokan minyak nilam dunia cukup mengkhawatirkan sehingga menimbulkan kepanikan pada sebagian besar buyer internasional, dan lonjakan harganya sampai ke tingkat spekulatif. Pemerintah Indonesia bersama Dewan Atsiri Indonesia, untuk mengatasi hal tersebut secara bersama mengambil langkah dengan mendorong peningkatan produksi melalui kegiatan panen dan penyulingan,intermediasi transaksi secara langsung antara penyuling dan eksportir, mengurangi keleluasan pedagang perantara yang melakukan spekulasi, membantu kelancaran informasi yang sehat untuk semua pelaku. Selain itu menyiapkan informasi yang akurat tentang potensi panen di seluruh sentra produksi dalam periode 3 bulan dan 6 bulan kedepan agar rencana transaksi bisa dibuat.Sebagai perbandingan, rantai industri minyak atsiri dan bahan aroma di China dan India teiah terbentuk dengan baik. Disamping telah eksisnya industri aroma chemicals yang berbahan baku alami (minyak atsiri), industri bahan pewangi dan perisa lokal juga telah berkembang dan mampu memasok kebutuhan industri consumer goods dalam negeri. Hal ini ditunjukkan oieh kinerja ekonomi dan kemampuan science dan technology pada sektor industri ini yang dimiliki kedua negara tersebut. Banyaknya peserta konferensi I FEAT asal China dan India juga merupakan bukti banyaknya pelaku usaha di industri ini pada kedua negara tersebut. Presentasi yang ditampilkan dan posisi yang diberikan negara-negara lain terhadap China dan India juga menunjukkan bahwa pengembangan sektor industri ini di kedua negara tersebut telah berdasarkan kebijakan dan roadmap yang jelas. Untuk mendorong berkembangnya industri hilir pada rantai nilai industri minyak atsiri indonesia sehingga nilai tambah yang dihasilkan bisa maksimal diperlukan kebijakan dan rencana yang terintegrasi, mulai dari aspek budidaya, pengolahan sampai produk jadi. Pemerintah perlu mengundang key players industri bahan pewangi dan perisa (Flavor dan Fragrance Houses) untuk berinvestasi di Indonesia di bidang manufaktur produk mereka serta untuk merangsang tumbuh dan berkembangnya industri aroma chemicals dan industri bahan pewangi dan perisa lokal di indonesia. Onma H.P. Pardede S.Pd

HOME   |   BUKU TAMU   |   KONTAK   |   DATA DAN STATISTIK
Copyright 2007 - 2011 by Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah