IKM GO Digital
03 Mei 2019384 Views

Kemenperin Pacu Peran IKM Terapkan Revolusi Industri 4.0 Dengan “Go Digital”

Kementerian Perindustrian terus gencar melakukan pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui pemanfaatan teknologi digital. Upaya ini adalah sebagai bagian dari pelaksanaan langkah-langkah prioritas yang tertuang di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0,  guna memacu IKM nasional berperan pada penerapan revolusi industri keempat, seperti terlibat di e-commerce yang diimplementasikan dalam e-Smart IKM.

Dirjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka Gati Wibawaningsih mengatakan, dengan tema “IKM Go Digital” acara e-Smart IKM 2019 yang dilaksanakan di kota Surabaya ini adalah rangkaian ketiga setelah sebelumnya sukses di laksanakan di kota Semarang dan kota Bogor “ini adalah langkah nyata Kementerian Perindustrian dalam hal ini Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) untuk mempersiapkan industri kecil dan menengah (IKM) menuju revolusi industri 4.0”jelasnya saat membuka acara e-Smart IKM “IKM Go Digital” di Surabaya, Jumat, (29/3).

Adapun acara yang dihadiri 1.000 IKM dari seluruh Jawa Timur ini berkolaborasi dengan 19 (sembilan belas) platform digital dan lembaga pembiayaan, acara ini dikemas dalam konsep pameran, talkshow, dan workshop.”Kami berharap program ini akan menjadi penghubung bagi IKM untuk belajar bagaimana menggunakan platform digital guna meningkatkan daya saingnya” ujar Gati

19 (sembilan belas) kontributor yang ikut pada acara ini adalah : 8 marketplace (Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Blibli, Gojek, Blanja.com, Ralali.com, dan Mbizmarket), 3 perusahaan information technology\ (Imooji, Odoo Indonesia Network, dan TSM), 3 perusahaan logistik ( JNE, Si Cepat, dan ATT), 2 perusahaan fintech (Dana dan OVO), 3 Perbankan (BNI, Bank Mandiri dan BRI).

Selain itu, acara ini juga didukung oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Timur dan Dinas yang membidangi sektor Industri Kabupaten / Kota se-Jawa Timur. “Kolaborasi ini merupakan kekuatan untuk memperkuat daya saing industri Indonesia, kita harus bergerak bersama”tambahnya.  

Gati meyakini, revolusi industri 4.0 memberikan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia dan menjadi salah satu cara mempercepat pencapaian visi Indonesia menjadi 10 ekonomi terbesar dunia pada tahun 2030.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 mencapai 5,17%, tertinggi dalam 4 (empat) tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi ini tentunya didukung oleh pertumbuhan sektor industri. Sementara itu kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB nasional tahun 2018 sebesar 17,63%.”jelasnya.

Gati menjelaskan, sektor industri tersebut termasuk juga di dalamnya adalah Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang merupakan tulang punggung dari perekonomian nasional.

Berdasarkan data Sensus Ekonomi tahun 2016 dari Badan Pusat Statistik, IKM berjumlah 4,4 juta unit usaha, atau sekitar 99% dari seluruh unit usaha Industri. Sektor Industri Mikro, Kecil, dan Menengah menyerap 10,5 juta tenaga kerja, atau menyerap sekitar 65% tenaga kerja sektor industri secara keseluruhan.

“Melalui program e-smart, sektor Industri IKM diharapkan tidak akan ketinggalan dalam tren transaksi online didalam situs jual beli, dan akan semakin banyak produk-produk IKM yang kompetitif.”ungkapnya.

Kementerian Perindustrian juga telah mempersiapkan 10 strategi dalam menyongsong Industri 4.0, yaitu penguatan rantai pasok, pembangunan kawasan industri, tujuan pembangunan yang berkelanjutan, penguatan sektor industri kecil dan menengah.

Selain itu, pembangunan dan penguatan infrastruktur digital, innovation ecosystem, pembangunan sumber daya manusia, kebijakan yang berpihak pada sektor industri dan peningkatan nilai investasi.

Sejak tahun 2017, Kemenperin telah berupaya melakukan edukasi dan pembinaan terhadap IKM di dalam negeri untuk bisa masuk dalam e-commerce melalui program e-Smart IKM. “Hal ini merupakan langlah konkret pemerintah dalam mempermudah dan memperluas akses pasar bagi IKM nasional sekaligus memperbesar presentase produk Indonesia “unjuk gigi” di e-commerce.”tambahnya.

Kemenperin mencatat, hingga akhir 2018, Workshop e-Smart IKM telah diikuti sebanyak 5.945 pelaku usaha dengan total omzet sebesar Rp 2,37 miliar.

Berdasarkan sektornya, industri makanan dan minuman mendominasi hingga 31,87% dari total transaksi di e-Smart IKM, kemudian disusul sektor industri logam sebesar 29,10%, dan industri fesyen sebesar 25,87%.

“Hingga tahun 2019, ditargetkan bisa mencapai total 10.000 peserta untuk ikut dalam program ini,” ungkap Gati.

Sampai saat ini, program e-Smart IKM yang dilaksanakan hingga di 34 provinsi, telah melibatkan beberapa pihak, seperti BI, BNI, Google, iDeA serta Kementerian Komunikasi dan Informatika. Selain itu, menggandeng pemerintah provinsi, kota dan kabupaten.

“Program e-Smart IKM juga telah bekerja sama dengan marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia,” sebut Gati.

Lebih lanjut, program e-Smart IKM akan pula memfasilitasi pelaku usaha agar dapat mengakses pasar yang lebih luas melalui kerja sama dengan ATT Group selaku Authorized Global Partner Alibaba.com di Indonesia.

“Kerja sama ini meliputi pelatihan pemasaran online bagi IKM dalam melaksanakan operasional di dalam Alibaba.com serta pertukaran data dan informasi mengenai perkembangan dan pencapaian IKM yang masuk di dalam program e-Smart IKM,” paparnya.

Gati Menambahkan, e-Smart IKM 2019 dengan tema “IKM Go Digital” ini menyediakan 4 topik talkshow serta 15 workshop yang bisa diikuti oleh peserta. “Saya gembira melihat antusiasme IKM untuk mengikuti acara ini, bukti bahwa IKM kita juga siap mengadopsi teknologi digital” tutupnya.

Berita terkait lainnya

Kembali ke atas