e-Smart IKM Palembang “Go Digital”
02 September 201960 Views

e-Smart IKM Palembang “Go Digital”

Kementerian Perindustrian terus gencar melakukan pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui pemanfaatan teknologi digital. Upaya ini adalah sebagai bagian dari pelaksanaan langkah-langkah prioritas yang tertuang di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, guna memacu IKM nasional berperan pada penerapan revolusi industri keempat, seperti terlibat di e-commerce yang diimplementasikan dalam e-Smart IKM. “Pemerintah telah meluncurkan 10 prioritas nasional untuk “Making Indonesia 4.0”. Salah satu bagian dari prioritas nasional tersebut adalah pemberdayaan sektor Industri Kecil dan Menengah, yakni dengan membangun platform e-commerce secara nasional, pengembangan technology bank, serta mendorong penguatan fondasi bisnis bagi pelaku IKM” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Gati WIbawaningsih pada acara e-Smart IKM 2019 “IKM GO DIGITAL” di Palembang, Senin (19/8).

Ditjen IKMA kembali menyelenggarakan e-Smart IKM dengan tema “IKM Go Digital” yang kini dilanjutkan di Kota Palembang pada tanggal 19 Agustus 2019. Acara ini dihadiri 500 orang peserta yang meliputi IKM dan masyarakat umum dari wilayah Sumatera Selatan ini berkolaborasi dengan 4 online marketplace di Indonesia, 1 perbankan, 2 Financial Technology, 1 aplikasi Point of Sale (POS), 1 aplikasi promosi digital, 1 perusahaan ERP untuk IKM, dan 1 Information Technology yang akan memberikan edukasi melalui format digital yang dapat diakses melalui internet. “Upaya pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) melalui pemanfaatan teknologi digital ini juga untuk memacu IKM nasional berperan pada penerapan revolusi industri 4.0”ungkap Gati. Gati meyakini, revolusi industri 4.0 memberikan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia dan menjadi salah satu cara mempercepat pencapaian visi Indonesia menjadi 10 ekonomi
terbesar dunia pada tahun 2030.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 mencapai 5,17%, tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi ini tentunya didukung oleh pertumbuhan sektor industri. Sementara itu di tahun 2018 juga, secara keseluruhan industri pengolahan berkontribusi sebesar 19,86% terhadap perekonomian Indonesia. Dari angka tersebut, industri pengolahan Non Migas berkontribusi sebesar 17,63% terhadap perekonomian nasional.”jelasnya. Gati menjelaskan, sektor industri tersebut termasuk juga di dalamnya adalah Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang merupakan tulang punggung dari perekonomian nasional. Berdasarkan data Sensus Ekonomi tahun 2016 dari Badan Pusat Statistik, IKM berjumlah 4,4 juta unit usaha, atau sekitar 99% dari seluruh unit usaha Industri. Sektor Industri Mikro, Kecil, dan Menengah menyerap 10,5 juta tenaga kerja, atau menyerap sekitar 65% tenaga kerja sektor industri secara keseluruhan.

Sementara itu, untuk sumatera selatan sendiri hingga tahun 2018 jumlah IKM yang ada di Sumsel mencapai 65.682 unit usaha dan dapat menyerap tenaga kerja dengan total 216.824 orang. “Jumlah ini membuktikan bahwa Sumsel memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) khususnya untuk terintegrasi dengan teknologi digital”ujar Gati. Gati pun percaya, dunia telah memasuki era digital economy, dimana model bisnis yang banyak dijalankan adalah berbasis teknologi informasi dan komunikasi, termasuk untuk peningkatan kemampuan SDM dalam rangka meningkatkan nilai tambah, industrialisasi, dan kesempatan kerja. “Melihat kenyataan ini, maka peningkatan kemampuan infrastruktur telekomunikasi, internet, dan data adalah sebuah keharusan.”tegasnya. Apalagi, Indonesia mempunyai potensi seiring dengan semakin berkembangnya penggunaan internet pada masyarakat. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, sepanjang tahun 2017, pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,68 persen dari jumlah penduduk yang mencapai 262 juta orang. “Penetrasi penggunaan internet itu diharapkan juga dimanfaatkan untuk usaha-usaha produktif yang mendorong efisiensi dan perluasan akses pasar seperti jual beli online,” ujar Gati. Kemudian, didukung pula dengan pengguna aktif smartphone di Indonesia yang terus tumbuh, dari 38,3 juta orang di tahun 2014 menjadi 103 juta orang pada 2018.

Menurut Gati, transformasi digital dari proses jual beli konvensional menjadi jual beli online yang semakin marak di Indonesia, tidak hanya untuk produk berupa barang bahkan jasa, menjadikan industri e-commerce memiliki tantangan besar tetapi menjanjikan potensi yang besar pula. “Kami berharap e-commerce akan menjadi gerbang bagi pelaku IKM untuk melakukan transformasi digital dengan menggunakan alat promosi digital, sistem informasi digital, pembayaran digital, serta
manajemen relasi dengan pelanggan secara digital.”tambahnya. Ditjen IKMA menargetkan sebanyak 10.000 pelaku IKM dari berbagai sektor dapat masuk ke pasar online melalui e-Smart IKM selama periode tahun 2017-2019. Mereka terdiri atas sektor industri makanan dan minuman, logam, furnitur, kerajinan, fesyen, herbal, kosmetik, serta industri kreatif. “Hingga saat ini, animo peserta cukup tinggi, dengan jumlah peserta yang mengikuti workshop e-Smart IKM telah mencapai sekitar 9.000 pelaku usaha,” ungkapnya. Total nilai transaksi e-commerce dari seluruh IKM tersebut, tercatat mencapai Rp2,3 miliar. Dari jumlah ini, sebanyak 31,87 persen di antaranya atau sekitar Rp755 juta berasal dari sektor industri makanan dan minuman.

Berita terkait lainnya

Kembali ke atas