English (United States) Bahasa Indonesia (Indonesia)
Friday, August 22, 2014
   
PUBLIKASI Kumpulan Artikel
Artikel

Current Articles | Categories | Search

Friday, February 01, 2013
Diversifikasi Produk Rumput Laut Zat Warna Alam Industri Batik
By SuperUser @ 9:40 AM :: 1503 Views
 

Balai Besar Industri Kerajinan dan Batik yogyakarta telah melakukan penelitian terhadap jenis rumput laut yang kurang mempunyai nilai ekonomi. “Rumput laut jenis sargassum ini kurang  dimanfaatkan untuk produk makanan, pada hal stok alami masih cukup tersedia”, kata Farida yang meneliti rumput laut ini. Hal ini, lanjutnya,  merupakan kekayaan alam yang tiada ternilai dan merupakan sumber daya alam laut yang terebar di seluruh Indonesia terutama di daerah rataan terumbu karang di semua wilayah perairan pantai. Sargassum tidak berkembang secara vegetatif.
Sumber daya alam ini merupakan bahan baku terbarukan dapat dipakai sebagai zat warna alam. Salah satu jenisnya yaitu rumput laut coklat Sargassum yang menghasilkan warna coklat keemasan  dan jenis lainnya turbinaria menghasilkan warna coklat kehijauan, ini semua potensial dimanfaatkan sebagai zat warna alam. Dari hasil pengujian ketahanan luntur menunjukkan nilai baik.

Dari segi ekonomi, margin dapat diketahui setelah dihitung dengan analisis biaya kuantita dan laba sebesar 41,6%. Tidak dikira bahwa warna ini disukai oleh sebagian pencinta batik. “Bahkan ada kelompok pecinta batik yang sudah memesan batik dengan warna dari rumput laut ini”, papar Farida.

Keunggulan Hasil Litbang
     Keunngulan dari penelitian zat warna alam rumput laut pada kain sutera dan katun dengan proses batik dan tritik jumputan ini adalah belum dilakukan oleh peneliti lain. Zat pengekstrak menggunakan alkali kuat dan lemah dengan proses perendaman. Bahan baku yang digunakan sutera, katun dan SANT (Serat Alam Non Tekstil). Dalam proses pewarnaan tidak menggunakan bahan yang bersifat karsinogen (seperti garam naftol). “Kalau menggunakan zat warna ini jatuhnya lebih murah, laba bisa mencapai 41,6%”, kata Farida

Sebelumnya penelitian yang serupa telah dilakukan oleh Balai Besar Tekstil yang meneliti zat warna rumput laut jenis Sargassum untuk tekstil. Dengan menilai kualitas manuronat dan guluronat yang berpengaruh pada hasil Natrium Alginat sebagai pengental untuk proses printing. Cara ekstraksinya berbeda dengan yang dilakukan oleh Balai Besar Tekstil. BBKB menggunakan NaOH dan Na2CO3, etanol dengan proses centrifuse, kerja iring dan tidak menggunakan garam naftol. Beda yang lain adalah bahwa pewarnaan pada tekstil tidak melalui proses pelorodan seperti halnya batik.

Hasil Pewarnaan
     Hasil pewarnaan pada kain katun (produk tritik jumputan) dan sutera (batik) mempunyai kemampuan daya serap yang baik. Namun untuk batik mengalami degradasi warna. Hal ini diebabkan karena penggunaan Na2CO3 pada proses pelorodan yang menyebabkan zat warna alam rusak dan luntur. Zat kerja iring yang digunakan adalah tawas, kapur dan tunjung. Warna yang dihasilkan dari rumput laut jenis Sargassum adalah coklat keemasan pada kain sutera dengan kerja iring tawas-kapur dan warna coklat kehijauan pada katun dengan kerja iring tunjung. Adapun warna coklat paling tua berasal dari rumput laut  turbinaria dengan kerja iring tunjung.

     Metode ekstraksi memakai tiga jenis pelarut (alkali, etanol, air dan Na2CO3). Menggunakan bahan baku katun dan sutera. Dari hasil ekstraksi didapatkan pelarut yang paling efektif untuk pewarna kain katun dan sutera yaitu kombinasi larutan NaOH dan larutan Na2CO3 dengan peremdaman dan pemanasan.

     Dari hasil pengujian didapatkan ketahanan luntur warna terhadap pencucian bernilai baiik. Untuk kain katun menunjukkan hasil rata-rata 4-5, sedangkan untuk sutera menunjukkan hasil rata-rata 4-5. Untuk kedepannya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai lilin batik untuk zat warna alam yang berasal dari jenis daun-daunan, kulit buah termasuk tanaman rumput laut.

Jasa Layanan Masyarakat
     Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Balai Besar Kerajinan dan Batik telah menyediakan pelayanan satu pintu untuk seluruh layanan jasa yang tersedia disini. BBKB melaksanakan layanan kerjasama Litbang di bidang teknologi bahan, desain produk, proses dan peralatan industri kerajinan dan batik. “Hasil litbang yang telah diaplikasikan dan dikenal luas, antara lain adalah teknologi pewarnaan alami untuk tekstil, batik, dan bahan-bahan serat alam”, kata Freddy Silitonga yang menjabat sebagai Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik. Disamping itu, lanjutnya, setiap tahun kegiatan litbang lain terus dilakukan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi industri kerajinan dan batik.

    Selain jasa layanan teknis, juga melayani masyarakat dalam pengembangan SDM industri kerajinan dan batik melalui layanan kerjasama penelitian mahasiswa, magang (praktek kerja lapangan), workshop singkat, layanan konsultasi teknis dan HKI serta jasa penanganan limbah industri kerajinan dan batik. “Dengan meningkatan layanan kepada masyarakat, kita akan bisa bersaing di pasar global”, papar Kepala Balai.

Sumber: Perpustakaan IKM Kementerian Perindustrian (Wagu F)

HOME   |   BUKU TAMU   |   KONTAK   |   DATA DAN STATISTIK
Copyright 2007 - 2011 by Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah