English (United States) Bahasa Indonesia (Indonesia)
Monday, November 24, 2014
   
PUBLIKASI Kumpulan Artikel
Artikel

Current Articles | Categories | Search

Thursday, January 13, 2011
Mutu Ditentukan Teknologi Pengolahan
By Editor2 @ 1:39 PM :: 2621 Views
 
Pengolahan minyak atsiri  bisa dilakukan  berdasarkan 3 aspek yakni aspek teknologi, aspek penyulingan jenis minyak atsiri baru, dan aspek pengelohan lanjutan /derivatisasi minyak atsiri kasar. Usaha minyak atsiri peluangnya sangat besar. Sayangnya budidaya dan proses pengolahannya  yang dilakukan saat ini masih sangat sederhana. Untuk itu perlu adanya perbaikan dimulai dari teknik budidaya, teknologi pengolohan minyak atsiri, hingga pengembangan industri antara yang menghasilkan produk derivat dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Dua kelompok usaha
Teknologi pengolahan minyak atsiri  di Indonesia saat ini dilakukan oleh dua kelompok pengusaha, pertama perajin kecil /tradisional, dengan pola penyulingan sistim  kukus (penyulingan air uap  pada suhu sekitar 1000C dan tekanan sekitar 1 atmosfir). Peralatan yang digunakan ketel suling, kondensor dan oil separator yang  terbuat  dari besi, drum bekas, besi galvanis, bahkan masih ada yang menggunakan bahan kondensor paralon dan bamboo. Untuk bahan bakar umumnya menggunakan ampas sulingan, kayu bakar atau minyak tanah. Namun ada juga beberapa penyuling yang menggunakan alat penyuling dari stainless. drum. Sedang pengadaan bahan bakunya tergantung dari harga minyak atsiri  yang ada di pasaran. Apabila  harga sedang tinggi maka petani mengusahakan tanaman minyak atsiri. Namun sewaktu harga minyak atsiri rendah petani beralih mengelola tanaman lain yang dianggap menguntungkan
Kelompok kedua, penyuling skala besar. Untuk kelompopk ini sebagian besar (98%) petani minyak atsiri dilakukan oleh BUMN (Ditjen Perkebunan), dengan metode penyulingan menggunakan uap (steam distillation  yang kapasitas olahannya minimal 500 kg bahan perbatch). Peralatan yang digunakan umumnya terbuat dari stainless steel.  Namun masih ada juga sebagian peralatan produksi yang terbuat dari besi atau logam lainya sehingga sering terjadi kondisi penyulingan tidak optimal, karena penggunaan tekanan uap yang kurang tepat, ukuran rajangan tidak standar sehingga terjadi stam channeling yang mengakibatkan rendamen dan mutu minyak atsiri tidak maksimum. Kondisi ini membuat posisi tawar minyak atsiri  kita tidak kuat di pasaran.

Tiga aspek
Pengolahan minyak atsiri  dilakukan berdasarkan tiga aspek.
Pertama aspek teknologi, yakni dengan melakukan perubahan penggunaan peralatan penyulingan dari peralatan yang terbuat dari besi, seng maupun aluminium menjadi peralatan penyulingan yang terbuat dari stainless steel.  Tujuannya untuk menghasilkan produk minyak atsiri berkualitas sesuai standar. Metode penyulingan dilakukan melalui pemisahan antara jenis  bahan  baku yang bertitik didih rendah seperti sereh wangi, serah dapur, kayu putih dengan menggunakan metode penyulingan (kukus, rebus dan uap).  Sedangkan untuk penyulingan minyak kenanga  ylang-ylang lebih baik mengunakan cara  Kohobasi  karena hemat energi (model balitro) meskipun metode uap juga dapat digunakan. Untuk minyak nilam, akar wangi, cendana, pala, harus menggunakan penyulingan uap. karena penyulingan dengan tekanan uap bertahap dapat mempersingkat waktu penyulingan. Cara penyulingan kedua adalah Adsorbsi, yakni menggunakan metode  ekstraksi  dengan pelarut, yang dapat  memisahkan minyak atsiri dari bahan baku bunga melati, sedap malam, cempaka dan akan menghasilkan bau asli alamiah. Namun biaya penyulingan dengan cara ini lebih besar khususnya produk oleoresin. Alat yang biasa digunakan adalah tipe  Bonnoto Ekstractor; Kennedy Ektractor dan Garnier Ekstractor. Sedang cara penyulingan yang ketiga Destilasi yaitu metode eksraksi dengan cara destilasi super kritis  (Super Critical Destilation) menggunakan pelarut nitrogen cair dengan tekanan tinggi  dan dapat menghasilkan ekstraksi flavor dari buah-buaha misalnya alpokat atau apel.
Aspek kedua  adalah penyulingan jenis minyak atsiri baru. Selain 12 macam minyak atsisri yang sudah lama dikenal,  jenis tanaman lainnya sebagai obat tradisional (jamu) seperti minyak kenanga, dan minyak kapulaga.  Peluang baru minyak atsiri yang banyak dilakukan penelitian adalah minyak kemukus, ketumbar, adas, dan klausena.
Aspek ketiga adalah pengelohan lanjutan / derivasi minyak atsiri kasar. Minyak atsiri banyak digunakan sebagai bahan ramuan berbagai produk atau sintetis menjadi aroma untuk industri kosmetik. Ada enam metode yang bisa digunakan dalam aspek ini, pertama  metode Pemucatan Warna, dengan menggunakan senyawa organologam dan Chelting Agent seperti Edta dan asam organik polivalen. Pemucatan  senyawa polimer dan zat warna alamiah dipisahkan  dengan menggunakan bahan pemucat bleaching clay arang aktif atau dengan rektivikasi (re-destilasi pada tekanan vakum)
Metode kedua adalah Fraksinasi, yakni memisahkan masing-masing komponen dalam minyak atsiri kasar berdasarkan titik uapnya. Dengan proses penyulingan bertingkat  pada tekanan vakum ( 5-10 mm Hg )
Metode ketiga adalah Deterpenasi, yakni memisahakan senyawa terpen  dan resin  dalam minyak atsiri kasar dengan menggunakan 2 jenis pelarut  (heksan dan etanol) dengan  teknik Kromatografi kolom
Metode keempat adalah Rektivikasi, yakni memisahkan zat warna minyak atsiri  dengan uap panas dan  Hidrodestilasi  dengan menghasilkan produk olahan  Rectifield Oil.
Metode kelima adalah Isolasi komponen utama, yakni cara kimia (Pembentukan senyawa komplek).  Dimana metode adalah memisahkan komponen utama dalam minyak atsiri  menjadi produk Isolat  dengan menggunakan pereaksi  yang spesifik yang membentuk  endapan seperti minyak cengkeh, terpentin, dan minyak kayu putih. Cara fisik (kristalisasi )  Isolasi komponen utama minyak atsiri melalui proses kristalisasi pada suhu rendah 0-5 ºC. Cara lainya melalui isolasi  anefthol  dari minyak klausena dan mentol.
Metode keenam adalah Sintesis senyawa derivat (senyawa semi sintetik) diterapkan untuk   pembuatan senyawa turunan (derivat) seperti; Isolat eugenol, Pinon dan  sitral.

Peluangnya besar
Pengolahan  produk minyak  atsiri tidaklah sulit, karena peralatan yang digunakan tidak terlalu canggih dan mahal. Namun dalam hal proses produksi membutuhkan  sumber daya manusia yang terampil dan berpengalaman. Hal ini sangat penting untuk menentukan kualitas minyak atsiri yang dihasilkan. Kebutuhan pasar akan minyak atsiri yang begitu luas dengan pemberlakuan standar Internasional yang ketat, maka produsen minyak atsiri seperti Saudi Arabia, Mesir, Spanyol, Cina, Srilangka, Maroko, India, Uni Soviet, Jepang,  Madagaskar, Turki, Guatemala, dan Indonesia harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan pasar sesuai dengan negara pengimpor. Saat ini pengguna tertinggi minyak atsiri adalah Jepang, Eropa, Timur Tengah dan Amerika. Minyak atsiri banyak digunakan untuk sumber bahan baku kosmetik, dan suplemen bahan kesehatan.Yang masih menjadi kendala adalah dimana harga minyak atsiri masih sering mengalami fluktuasi. Hal ini karena petani minyak atsiri sering tidak memenuhi kebutuhan sesuai  permintaan produsen. Banyaknya negara yang membutuhkan minyak atsiri tentunya ini merupakan peluang pasar yang bagus bagi pelaku usaha. Yang perlu dilakukan produsen minyak atsiri adalah pertama membentuk Assosiasi dari  jaringan pasar ditingkat lokal, regional sampai internasional agar dapat menentukan harga standar yang layak dan menguntungkan petani, produsen, dan pemasok minyak atsiri.
Kedua membuat  metode pengolahan yang mencapai tingkat efisiensi secara optimal melalui peningkatan pengetahuan tentang budidaya tanaman, teknik proses produksi/penyulingan dengan peralatan yang standar sehingga menghasilkan produk minyak atsiri yang berkualitas dengan kuantitas yang sesuai dngan kebutuhan pasar.
Ketiga, melakukan penerapan standar mutu yang dimulai dari seleksi keragaman mutu bahan baku, peralatan produksi dan proses pengolahan yang digunakan sehingga menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas tinggi. Lusiana Mohi

 

      

HOME   |   BUKU TAMU   |   KONTAK   |   DATA DAN STATISTIK
Copyright 2007 - 2011 by Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah